Rabu, 30 Desember 2015

Asal Usul Kata Jancok Dalam Penelitian Jaseters

Bismillahirrohmanirrohim...

Unduh Arikel Ini?, Klik Di Sini...

Penagamatan dan Penelitian yang di lakukan oleh Tim Gresik Iku Jaset! ini, belum pernah ada dan terpublikasikan oleh media apapun sebelum artikel ini.
Untuk kepentingan Edukasi, terpaksa tidak ada sensor pada suatu kata apapun.


ALASAN
Pengamatan dan penelitian ini atas dasar sosial, banyaknya artikel sejarah jancok yang ngawur dalam berbagai versi dan tidak ada kejelasannya yang seolah-olah dibenarkan oleh beberapa pihak, bahwa jancok berasal dari Arab, Belanda, Amerika, Madura, Sulawesi.

AMATI, CERMATI, ANALISIS, TELITI

Apa Itu Jancok?
Jancok adalah sebuah kosakata umpatan yang berakarkan kebudayaan Surabaya, di Tempat lain Umpatan dapat berbunyi meliputi kata benda, nama hewan, nama hal sesuatu yang lazimnya saru di ucapkan seperti halnya:

Nama Hewan : Anjing, Asu, Jaran, Jangkrik, Badak
Nama Benda dan hal : Panci, Taek, Bangsat, Keparat, Joh Ngasoh, Goblok, Jan.
Nama anggota tubuh :Rai, Mata, Jembut, Torok, Bawuk, Kontol,

Contoh umpatan diatas selain jancok adalah umpatan khas yang lazimnya di ucapkan warga jawa timuran, Jawa tengah, dan yogyakarta dengan penggunaan bahasa Jawa yang umunya kasar (kromo andap).

Namun untuk Anggota tubuh, meski bukan yang telah disebutkan, apabila ditambahkan MU (kepunyaan kamu) dengan tekanan nada tinggi akan berubah menjadi sebuah umpatan, yang umumnya digunakan dalam masyarakat jawa.

Contoh: Mata-mu, Ndas-mu, Untu-mu, Irung-mu, Congor-mu, Taek-mu, Rai-mu dan sebagainya.

dalam tradisi budaya Jawa Arek yang meliputi kota Surabaya, Gresik dan Sidoarjo dalam memanggil seseorang yang lebih tua atau yang dihormati dengan sebutan "Cacak" dapat juga berarti Kakak laki-laki, berbeda dengan Jawa kulonan yang menyebut Kakang, apabila pada Tionghoa dengan sebutan Koko.

yang menarik hingga saat ini, di komunitas Jawa Kulonan masih menggunakan umpatan "Jan Tenan" yang dimana Jan berarti ungkapan lrasa kecewa yang sangat-lebih, sedaangkan Tenan yang berarti benar-an seperti kalimat berikut.

"Mobilnya pak Agus Apik Jan" dalam bahasa Indonesia : mobilnya pak Agus bagus sekali
"Mobilnya pak Agus Apik Tenan" dalam bahasa Indonesia : mobilnya pak agus memang bagus

Tim Jaseters menyimpulkan bahwa, Jancok yang lahir di kota Surabaya, kota yang penduduknya hetrogen (pendatang) dan ibu kota dari jawa timur sejak era kolonial Belanda berasal dari kata Jan yang berasal dari Jaran dan Cak yang diartikan Kamu.

kata umpatan Jancak di buat oleh seorang pemuda yang kecewa dengan seniornya, maka tidaklah etis mengatakan umpatan seperti halnya umpatan jawa umumnya kepada seniornya, sebagai contoh : Asu (anjing). Untuk itu di gunakanlah suatu kosakata baru yang tidak diketahui oleh senior dengan tujuan meluapkan amarah namun tanpa harus menyinggung perasaan senior/ orang yang lebih tua tersebut.

Apabila diartikan Jan dan Cacak berarti Kakak Sangat  --- (bisa : Bodoh) yang mengungkapkan rasa kecewa. namun karena orang biasa lebih familiar menggunkan vocal [O] daripada vocal [A,I,U,E], dengan begitu pengucapan lafal Jancak menjadi Jancok.

PENYEBARAN

Meski jancok lahir disurabaya, namun jancok populer di luar surabaya juga seperti kota Gresik. kota Gresik dalam pemetaan kemerdekaan merupakan kota yang termasuk wilayah administratif kabupaten Surabaya hingga tahun 1974.

Namun tidak ditemukannya di kota Gresik seorang berusia 50 tahun lebih yang mengenal kata Jancok di usia mudanya, Jancok dikenal orang Gresik sekitar tahun 1999an awal 2000, dimana tahun tersebut tahun terbentuknya organisasi suporter sepak bola Gresik yang tidak lain Ultras.
Suportes Surabaya, Bonek Mania
Memberi dukungan kepada tim sepak bola yang berseruan dengan superter lawan memberi kebanggaan sendiri, tidak lepas kata Jancok keluar dari sorakan suporter surabaya dengan menjancukan suporter lawannya, bagi kota lain yang tidak mengenal kata jancok awalnya bersikap biasa saja, namun setelah mengetahui bahwa jancok merendahkan tim yang di dukung, secara otomatis jancok pun dilemparkan kembali ke suporter sepak bola surabaya.

Selain melalui jalur suporter, jancok juga tersebar melalui jalur layar/laut (tanjang Perak) yang merupakan pelabuhan tersibuk di jawa timur, bertemunya orang surabaya dengan orang madura, bugis, melayu, transmigran membuat jancok lebih dikenal dan di amalkan oleh orang yang membawanya.

PERKEMBANGAN

Dengan terbiasanya umpatan Jancok pada telinga masyarakat Surabaya, Jancok tidak menjadi sekedar umpatan, melainkan juga sebagai ungkapan "gojlok" atau biasa disebut Ejekan. Dalam arti, jancok bukanlah kata umpatan, melainkan juga kata ungkapan pokok sehari-hari layaknya Jan dan Tenan dalam masyarakat Jawa Kulonan.

Contoh: "Jancok, pak Agus mobilnya apik" Dalam bahasa indonesia : Mobilnya pak Agus Bagus Sekali

Selain itu, penekanan dan bentuk kata Jancok juga menjadi bervariatif dalam penggunaanya baik dalam umpatan maupun ungkapan pokok. kata jancok menjadi beberapa kata, seperti:

Jian+Cok, Dan+Cok, Dian+Cok, Jan+cuk, Dian+Cuk dan sebagainya yang terdiri dari penekanan


Level 1 : Jancok, jancuk, dancok (kategori Biasa)
Level 2 : Jiancok, Jiancuk, diancok (Kategori Berbahaya)
Level 3:  Jiuancok, Jiuancuk, diuancok (Kategori sangat Berbahaya)

bahkan terdapat ungkapan "Orang surabaya apabila tidak bisa bilang Jancok, berarti orang itu Jongok (bodoh/idiot).
Poster film Merdeka atau Mati
Pada tahun 1990, sebuah film bioskop dengan judul "Merdeka atau Mati" (bisa juga, Surabaya 45). kosakata Jancok menjadi ungkapan yang populer pada masyarakat surabaya tahun 1945 baik umpatan maupun sebagai bahan canda. Di produksi oleh Pt. Sinar Permata Mas yang berkerja sama dengan Pemda Jawa Timur.

Lambang Jaseters
Pada tahun 2004, Jancok di kesampingkan menjadi Jaset oleh Anas merupakan warga Gresik yang kurang menyukai kata Jancok, karena pada tahun-tahun tersebut umumnya pengungkapan kata jancok di Gresik sebagai umpatan dengan penekanan suara dan emosi, berbeda dengan jancok di surabaya yang lebih jenaka.

Ungkapan Jaset kini dapat dikatakan sama besarnya dengan jancok, hanya saja Jaset di ungkapan oleh mereka yang enggan mengucapkan ungkapan Jancok dan sudah tersebar ke luar Gresik. Rata-rata penuturnya adalah orang dewasa yang sudah memiliki anak/cucu, santri, pelajar baik-baik, ustadz dengan sebutan Jaseters atau Jazitiyah yang sama berarti pengikut Jaset, tentunya berbeda 360 derajat kebalikan dari penutur jancok

Poster Grammar Surabaya Volume 1
Pada tahun 2007, Cak Ikin (Dulu, Si Ikin) selaku owner Gatot kaca Studio, membuat video animasi "Grammar Surabaya" dengan tokoh yang berbeda watak, si Boyo yang terbuka apa adanya dan suka mengatakan Jancok Sedangkan si Sura justru lebih berhati-hati dalam ucapannya, animasi ini dilengkapi dengan peningkatan point bila mengatakan hal buruk (sejenis pahala dan dosa)

Grammar Surabaya ini sukses memikat hati seluruh kalangan dangan wadah Jancokers dan selalu ditunggu-tunggu berbagai episode lanjutan oleh penggemarnya hingga saat ini, karena dalam animasi buatan cak Ikin ini selalu terdapat isu masa kini, kehidupan sehari-hari dan filosofi kehidupan. Bahkan terdapat serial khusus anak-anak yang diproduksi Gatot Kaca Studio , namun tanpa ada umpatan sama sekali.

Namun Tim Jaseters berpendapat, bahwa animasi Grammar Surabaya justru membuat orang yang melihatnya lebih enggan mengucapkan kosakata Jancok, karena terlihat dari bila setiap pengumpatan maka akan bertambahnya sebuah point layaknya point pada game pertarungan.

Pooster film Punk In Love
Pada tahun 2009, Sebuah film berjudul "Punk In Love" seorang tokoh utama bernama Arok (punkers malang) gemar mengatakan Jancok dalam perjalananya menuju kota dimana kekasihnya tinggal. Di produksi oleh Raam Punjabi.

Sampul buku Republik #jancukers
Pada tahun 2012, buku berjudul Republik #Jancukers karya Sujiwo Tejo dengan pemikirannya yang dimana sebuah negara yang dipimpinnya dapat memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya dengan penggemarnya disebut Jancukers.

Jancukers sujiwo tejo mengalahkan Jancokers si ikin yang lebih dahulu ada karena penggemar buku tersebut adalah kaum mahasiswa dan politik intelektual yang melek internet, terutama Twitter dengan hastag-nya. Buku republik #jancukers di terbitkan oleh Kompas Publishing.


Responden : Total 60 orang dari, 30 Orang Jawa Arek (15 Surabaya, 15 Gresik ) dan 30 orang Kulonan ( 10 Magetan, 10 Ponorogo, 5 Madiun, 5 Ngawi, 5Nganjuk) Usia : v25 | 25 orang,  ^25 |25 orang. Sebagaian Tuban, Bojonegoro, Pamekasan, Bangkalan, Lumajang.

15 November 2015

untuk keperluan rujukann data dan penelitian, silahkan hubungi Jaseters, Gresik Iku Jaset!



Selasa, 29 Desember 2015

Inilah 3 Kota Di Indonesia Yang Menerapkan Hukum Qisas Islam

Bismillahirrohmanirrohim....

Mendengarkan saja sudah dapat membuat kita merinding meskipun tidak menyeramkan... Hal itu karena kosakata Qisas sudah menjadi sugesti yang begitu mengerikan di telinga masyarakat Indonesia, Identik dengan pancung kepala, potong tangan maupun rajam dialami oleh TKI/TKW di Saudi Arabia yang menjadi berita Nasional.

Sebenarnya Hukum Qisas tidaklah begitu mengerikan, Asalkan kita tidak melakukan sebuah kesalahan Bahkan Hukum ini sebenarnya dapat menstabilkan kehidupan Indonesia yang sudah mulai kacau balau nan tidak terkendali saat ini, dengan begitu dapat dijadikan sebagai batasan-batasan perilaku manusia yang hendak menyimpang dari peraturan-peraturan yang ditetapkan.


Kata Qisas sendiri dari bahasa Arab yang berarti pembalasan di dunia yang setimpal, Bila mencuri dan korupsi sudah asti tentu tangan yang akan di potong, bila membunuh sudah tentu leherlah yang akan di penggal yang akan mengakibatkan kematian pula, hingga ke lingkaran perselingkuhan dan lain-lain menimbulkan terciptanya suatu dosa, sehingga terciptanya rasa aman di masyarakat.

Tetapi adakala kelemahannya, yaitu akan terjadinya penyalahan guna oleh orang yang tidak bertanggung jawab, seperti fitnah, adu domba yang menyebabkan kerugian pada sebilah pihak. Karena apabila eksekusi sudah dilaksanakan, Bisakah tangan terpotong kembali lagi? bisakah orang mati di hidupkan kembali?

Berikut informasi kota-kota di Indonesia yang menggunakan hukum Islam sebagai Landasan hukum di wilayah tersebut, yang di rangkum oleh Jazitiyah. Semoga bermanfaat untuk Jama'ah Jazitiyah sekalian.

Lambang Kota Jepara

1. Kerajaan Kalingga di Kota Jepara (Abad 6-7)
Kerajaan Lingga yang selama ini di kira Hindu oleh masyarakat, ternyta merupakankerajaan Islam yang dipimpin oleh Ratu Shima juga yang juga beragama islam, Hal itu terbukti adanya korespondensi Ratu Sima dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Ia menerapkan hukum islam untuk memberantas pencurian dan kejahatan ang sering terjadi, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur dan berperilaku baik.

Bahkan Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putra mahkotanya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.

Awal mulanya, pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemasyhuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada seorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya walau kemudian hanya memotong kaki sang putera mahkota.

Lokasi : Kota Jepara, Provinsi Jawa Tengah | Kerajaan Lingga


Lambang Kota Ponorogo
2. Desa Tegalsari, Kadipaten Ponorogo (Abad 17-19)
Hukum Islam juga pernah dilakukan di lingkup desa Tegalsari, kecamatan Jetis Ponorogo yang di gagas oleh Kyai Ageng Hasan Bashari pendiri dari Pondok Tegalsari yang merupakan cikal bakal dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Desa Tegalsari semakin hari menjadi semakin ertambah banyak penduduknya dan sangat maju dalam hal Agama Islam, sampai-sampai tersohor dimana-mana pesantren Tegalsari.

Kyai Kasan Besari selain mengajar para santri juga menjabat sebagai Kepala Desa Tegalsari. Jumlah muridnya ketika itu tidak kurang dari 10.000 orang. Di waktu itu Kyai Ageng Kasan Besari sampai membuat peraturan baru yang selaras dengan Hukum Agama Islam. Orang mencuri (maling) apabila tertangkap hukumannya dipotong tangannya, orang yang bertindak zina digebuki sampai 80 kali gebukan. 
Desa Tegalsari adalah desa yang aman dan tentram, menjadi sumber ilmu Agama Islam. Keamanan dan ketentraman desa Tegalsari membuat iri hati desa-desa yang lain. Sehingga desa lainnya juga akan menerapkan peraturan seperti di desa Tegalsari.

Bupati Ponorogo setelah mendengar bahwa Kyai Tegalsari membuat peraturan sendiri dan nyebal dari peraturan Pemerintah segera melaporkan hal tersebut kepada Sinuhun di Surakarta. Sinuhun merasa terkejut sekali, terus memerintahkan supaya menangkap Kyai Tegalsari untuk dibawa ke Surakarta dikenakan pidana. Sesudah diurus oleh Pengadilan Negeri, Kyai Ageng Kasan Besari mendapat keputusan dibuang (diasingkan/diselong) keluar Jawa, di seberang lautan, namun setiap perahu hendak berangkat membawa Kyai Ageng Kasan Besari selalu tidak dapat berlayar, hingga diputuskan menjadi tahanan di keraton.

Hingga suatu saat keraton Surakarta di luruk oleh para santri Tegalsari yang berjumlah 500 orang, namun Kyai Ageng Kasan besari lebih memilih untuk ditahan sebagai rasa setia kepada peraturan pemerintahan yang ada. Kebiasaan Kyai Ageng Kasan Besari membaca Al-quran setiap malamnya dengan suara merdu, membuat putri Sinuhun tertarik dan dinikahkan dengan Kyai Ageng Kasan Besari, Hukum Islam pun tetap dilakukan di desa Tegalsari selama periode Kyai Ageng Kasan Besari, Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904.
Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Ya, bila kita pernah melihat penari di cambuk berkali-kali dalam pertunjukan atraksi Reyog atau Kuda lumping, sebenarnya adalah peringatan bagi umat islam, bahwa kelak akan hari pembalasan tanpa ampun meski memohon. lalu kenapa tidak sakit? untuk sementara hal ini rahasia Jazitiyah yang tidak lama lagi akan di publikasikan dalam bentuk buku.

Lokasi : Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.

Lambang Provinsi Aceh

3. Nangro Aceh Darussalam (Abad 20 - Sekarang)
Tanah Aceh yang tidak merasakan dijajah oleh orang Eropa mendapatkan hak daerah istimewa tentang digunakannya hukum islam di seluruh provinsi Aceh tersebut dengan sebutan Qanun Hukum Jinayah.

Dengan disahkannya Qanun Hukum Jinayah sejak tahun 2005, maka di Aceh akan berlakunya hukuman cambuk atau denda dengan bayar emas murni bagi pelaku pemerkosaan, perzinaan, pelecehan seksual, praktik hubungan seksual sesama jenis gay, lesbian, mesum, perjudian, mengonsumsi minum keras dan bermesraan dengan pasangan bukan muhrim.

Bukan hanya pelaku, orang yang ikut menceritakan ulang perbuatan atau pengakuan pelaku jarimah secara langsung atau melalui media juga dikenakan hukuman cambuk.

Sanksi cambuk bukan hanya berlaku bagi mereka yang beragama Islam. Warga non-muslim, anak-anak dan badan usaha yang menjalankan bisnisnya di Aceh, jika melakukan pelanggaran syariat, juga akan dikenakan hukuman dalam qanun ini. Hanya saja bagi non-muslim diberi kelonggaran yakni bisa memilih apakah diproses dengan qanun atau hukum nasional yang berlaku.

Lokasi : Provinsi Daerah Istimewa Nagro Aceh Darussalam

Penangkapan Pangeran Dipenogoro
Dengan demikian, telah ada sejak lama dalam catatan sejarah Indonesia tentang penggunaan hukum islam di berbagai tempat karena suatu keistimewaan. sebagai contoh, Kerajaan Lingga menggunakan hukum islam sebagai hukuman bagi yang melanggar di wilayah tetorial kerajaan yang di bentuk langsung oleh kepala negara, hal tersebut berlaku juga untuk desa Tegalsari dan Aceh.

Dengan adanya Hukum Islam, bukan berarti merubah Indonesia menjadi negara Islam maupun negara Arab, tetapi lebih menjujung harkat diri bangsa Indonesia, karena masyarakat akan lebih berhati-hati dalam melakukan suatu tindakan, yang tentunya merugikan orang lain.

Bahkan pihak Belanda acap kali menggunakan hukuman mati kepada mereka Pemberontak (pahlawan Indonesia) yang beragama islam karena telah banyak membunuh prajurit Belanda, dengan dalih orang Islam harus dihukum dengan hukum Islam juga baik di gantung, dipenggal ataupun ditembak.

Siapakah mereka? Si Pitung, Pangeran Dipenogoro, Kapitan Patimura, Sadiman Sakera, Jayadigdan dan masih banyak lagi. Dan masihkah kita tidak mensyukuri kemerdekaan atas perjuangan para pahlawan kita?

mungkin akan menjadi lebih baik, bila seluruh Indonesia juga menggunakan hukum Islam.Takut? bagi mereka saja yang takut akan kebaikan. positive thinking saja, mungkin saja untuk menghindari hal sedemikian yang di alami oleh para pahlawan kita.

Disusun oleh Tim Jazitiyah, Gresik Iku Jaset!
20 Juli 2015

Kamis, 11 Juni 2015

Membaca Doa Qunut Hukumnya Wajib Bagi Umat Islam | Fatwa Dewan Jazitiyah

Bismillahirrohmanirrohim...
Ini hanyalah Renungan Pribadi dari Jazitiyah Sahaja.


Tim Jazitiyah telah melakukan komunikasi yang dalam pada ormas islam besar di Indonesia ini, terutama Muhammadiyah (MD) dan Nahdlatul Ulama (NU). Karena perbedaan yang di yakini begitu kontras, seperti MD tidak membaca doa qunut pada shalat subuh sedangkan NU menggunakannya, kiblat shalat ang berbeda dan perbedaan penepatan pada hari raya Idul Fitri. Lalu bagaimana sebenanya?

 Admin Jazitiyah sejak kecil di kota Gresik dan seringkali selalu di tanya "Kamu Muhammadiyah atau NU?" atau "Subuhmu pakai qunut atau tidak?". Pertanyaan seperti tersebut sering di utarakan ketika memiliki teman ataupun orang baru. Admin Jazitiyah selalu tidak menjawab pertanyaan tersebut, justru mengajukan pertanyaan yang sama, setelah di jawab MD atau NU, barulah admin Jazitiyah menjawab dengan jawaban "Innaddina  Indallahil Islam". 

Bahkan bila ada dua orang dari masing-masing MD dan NU untuk meyakinkan diri mereka bahwa Admin merupakan seseorang diantara mereka, tetapi justru admin beri pertanyaan "Nabi Muhammad dulu iku MD atau NU?" . Mereka dengan semangat menjawab "nabi Muhammad ikutan Muhammadiyah" bukan "Muhammad itu ikut NU".

Apa itu Innaddina Indallahil Islam?. Innaddina Indallahil Islam berarti Sesungguhnya agama yang di ridhai Allah hanyalah Islam, sesuai admin yang terima pelajaran keagaaman dari Ibu admin. Setelah itu admin justru di sesatkan "Apa itu? Kamu ikut aliran Sesat ya?" "Aliran sesat baru ini ya?", Tentu saja di bilang saat karena pada tahun tahun tersebut banyaknya muncul aliran sesat atas nama Islam ataupun tidak. Setelah di jelaskan, tentu saja tidak menerima pernyataan dengan mudah. karena hanya hamba yang tidak ingin menjadi dari salah satu 72 Golongan islam yang kelak tidak di selamatkan Rasul Saw dan Allah.

Bahwasannya  Admin Jazitiyah di saat berada di orang-orang MD, admin dikira senior dari MD. Begitu juga saat di NU, LDII, Bahkan hingga Kejawen sekalipun. Hal itu karena seseorang Admin mendapatkan weangan bahwa manusia selalulah seperti Udara.

 Dan sudah jelas, bahwa MD tanpa qunut sedangkan NU memakai qunut, lalu kenapa? ada apa? setelah di teliti di lapangan memang banyak yang mengatakan hal yang sama oleh orang MD maupun NU dengan presepsi yang mereka yakini.

Orang Muhammadiyah tidak membaca qunut di karenakan 2 hal, Yakni :
1. Membaca qunut itu Sunah, Orang Muhammadiyah acap kali tidak melakukan sunah, karena tidak haram maupun dosa bila tidak di lakukan.
2. Membaca qunut itu hanya boleh dilakukan saat terdapat peperangan yang melanda (bisa juga bencana) .
pada poin nomor 2, hal itu juga dikatakan oleh orang non Muhammadiyah yang pernah mengenyam pendidikan di yayasam sekolah Muhammadiyah.

Sedangkan orang Nahdlatul Ulama membaca qunut karena sunah dan mendapatkan pahala bila di lakukan.

Nah dari pernyataan orang-orang MD dan NU di lapangan memang terdapat perbedaan yang tipis namun nampak. Bila  orang MD tidak membaca qunut karena tidak wajib dan INDONESIA aman - aman saja dan tidak ada peperangan sedangkan orang NU membaca qunut karena sunah dan tidak tahu bahwa qunut di lakukan saat peperangan.

Suatu hari, Admin harus kehilangan orang-orang yang di kenalnya yang murah senyum. Entah kenapa mereka meninggal secara berurutan dari minggu ke minggu selanjutnya dan mereka semua di jemput oleh malaikat Allah pada hari Jum'at.

Saat mengiringi jenazah dan usai pemakaman, Sang Mudin selalu khalayaknya mengingatkan sesuatu yang khas keda sang Jenazah, meskipun beda mudin maupun beda tempat pemakaman karena yang di katakan sang mudin ialah pertanaan dari malaikat Munkar dan Nakir. setidaknya seruan tersebut seperti berikut :

1. Siapa Tuhanmu? Jawablah Allah Swt tuhanku
2. Siapa Rasulmu? Jawablah Muhammad Saw Rasulku
3. Apa Agamamu? Jawablah Islam Agamaku
4. Apa Kitabmu? Jawablah Alquran Kitabku
5. Dimana Kiblatmu? Jawablah Ka'bah Kiblatku
6. Siapa Saudaramu? Jawablah Seluruh orang Islam adalah Saudaraku.

Dari poin nomor 6 lah saya sadar, kemungkinan akan banyak orang islam kesulitan menjawab di alam kubur kelak, meskipun mampu menjawab sudah pasti akan di sangkal sama mereka yang Islam.

Bukannya yang ada di Palestina adalah orang Islam yang dizalimi oleh orang Yahudi? atau pembantaian Muslim Rohingya? pembakaran muslim maluku. Mereka yang telah meninggal karena penindasan tersebut akan mengatakan "Dia bohong, Saat diriku kesusahan dia hanya santai saja  di tempat (Indonesia)." Nudzubillahmindzalik.

Kita sering mengatakan mereka yang sedang Jihad atas nama islam untuk menyingkar yang menindas di jazirah arab akan mati sangit (Bahasa jawa: bau hangus) karena bom bunuh diri dan terkena rudal basoka, mungkin. Nyatanya hanya Kita saja yang bermental tempe, tidak punya nyali, mungkin saja iman kita sudah pulai pupus dan hangus sendirinya. " Jihad itu harus pakai otak ", " Jihad itu tidak harus perang, kerja dan sekolah juga jihad dan ini dan itu".

Lalu siapa yang akan menyelamatkan Saudara Muslimmu? 

Teringat suatu postingan sudah lama yang sangat menyentuh hati, bahwa palestina telah menjadi pelopor mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai negara, Palestina memberikan dana kepada indonesia untuk peperangan saatitu, bahkan di saat masih bertebanganannya rudal, warga palestina masih memberikan sumbangan kepada Indonesia saat terkena bencana Tsunami Aceh amupun ledakan gunung-gunung laiinnya. Memilukan Bukan?

Bukannya kita sebagai muslim kita harus saling menolong? hanya mementingkan ego kita? Kita aman Bro! Indonesia ini bro! tetapi Mereka Islam dan telah memberikan banyak jasa kepada Indonesia. apakah kita memang bangsa yang harus di beri contoh dahulu supaya sadar? memalukan bukan?

kalau memang kita tidak mampu memberi bantuan secara finasial apalagi tenaga, alangkah baiknya kita mengirimkan doa kepada mereka.

Penelitian secara Spiritualisme :
- Masjid yang membaca Doa Qunut lebih dan menimbulkan bersinar dan memancarkan cahaya yang terang ke angkasa, daripada Masjid yang tidak membaca Doa Qunut
- Orang yang sering membaca doa Qunut lebih terlihat ringan dan Senantiasa terhindar dari malapetaka maupun bencana.


Fatwa Jazitiyah 2014 :
"Setiap-tiap orang yang beragama Islam, Bertuhankan Allah Swt dan bernabikan Muhammad Saw, Wajib membaca Doa Qunut setiap subuh yang di tujukan kepada Mereka, saudara Islam kita yang terzalimi oleh Ras Kafir. Bagi Yang tidak hafal, cukup membaca sebisanya tidak peduli kamu dalam lindungan organisasi islam apapun juga"

Disini Jazitiyah percaya bahwa Doa Qunut adalah Senjata Utama Umat Islam, dengan terkumpulnya doa Qunut yang menyelimuti Bumi. Allah sebagai tuhan umat Islam akan menyelamatkan kita, baik secara langsung dari beliau maupun dari Malaikatnya.


Bacaan Doa Qunut :

Senin, 08 Juni 2015

Kesenian Yang Sangat Nasionalis Adalah Reyog Ponorogo.

Bismillahirrohmanirrohim...

Pernahkah anda berpendapat kesenian mana dari Indonesia yang paling Nasionalis? Bila belum memikirkan, Disini Lembaga Survei Jaseters akan menawarkan kepada anda kesenian yang sangat Nasionalis ialah Reyog dari Ponorogo, Hal itu karena saat ini Maraknya kesenian yang menyebut dirinya dengan nama REOG.

Hal itu karena di temukannya beberapa unsur yang mampu menguatakan bahwa Reyog merupakan kesenian yang sangat Nasionalis.

1. Seniman Reyog Tidak harus orang dari Ponorogo maupun Jawa (Tidak Terikat Suku dan Ras)        
    Seniman Reyog tidaklah harus dari Ponorogo maupun keturunan dari pemain Reyog, Melainkan harus memiliki kecintaan akan Reyog. Hal ini Terbukti karena dari ribuan Seniman Reyog yang ada bukanlah dari Ponorogo saja, melainkan juga dari kalangan orang Sunda, Melayu, Madura, Dayak, Flores, Irian hingga orang dari luar negeri yang bukan Indonesia sekalipun.
Reog "Singo Mudho Korea" yang di bentuk oleh TKI asal Ponorogo.

Selain itu, Kesenian Reyog selalu ada pada kegiatan kesenian non Jawa, yang sebagaian di adakan oleh pemerintahan maupun oleh kesatuan adat dimana Reyog berada baik di Indonesia maupun di Luar Negeri. Bahkan sekitar 30 Tahunan yang Lalu, Reyog Ponorogo yang Tampil di Korea oleh delegasi Indonesia mendapatkan dua penghargaan sebagai "The Big Mask of Dance in The World",  Karena memang Topeng dari Reyog sangat besar yang mencapai 2,25 Meter dan bila di tarikan menjadi kurang lebih 4,5 Meter dan penghargaan kedua ialah "The Magic of Dance in The World", Karena Reyog zaman dahulu sering menampilkan atraksi yang tidak dapat di terima akal seperti melahap api, aksi kekebalan tubuh, akrobatik, hingga menyemburkan api yang indah yang kala itu belum mampu di lakukan oleh pemain sirkus sekalipun pada masa itu.

2. Seniman Reyog Tidak harus Dari Kalangan Orang Islam (seperti point pertama). 
    Memang saat ini Seniman Reyog di dominan mereka yang beragama Islam, Tetapi sebenarnya terdapat juga dari seniman reyog beragama non Islam seperti Kristen, Budha dan Hindu. Hal itu dapat di temui beberapa kelompok Agama non Islam yang memiliki Group Reyog sendiri.
Reog pada acara keagamaan Hindu di Gresik, kota cikal bakal islam di Jawa

Sekali lagi, Reyog kerap tampil di acara kegiatan agama baik Islam, Kristen, Hindu maupun Budha.

3. Reyog Kesenian Yang Bebas.
    Reyog merupakan kesenian yang di ciptakan oleh penguasa Ponorogo pada waktu itu. Pakaian, Musik, bahkan Gerak tari di luar dari pakem yang menunjukan Jawa, Bahkan lebih terlihat seperti Urak- Urakan dan merendahkan beberapa Tarian yang ada pada Keraton. hal itu dikarenakan tarian yang ada pada Keraton adalah tarian dari Rakyat untuk Raja, sedangkan Reyog di ciptakan oleh Penguasa kepada Rakyat. Hal inilah yang mambuat Reyog dan lebih terkenal dari tarian Keraton.

Kaloborasi musik Jazz dengan musik Reyog di kawasan Tengger
   Apabila di luar Ponorogo, Reyog mampu menarik simpati lebih banyak pengunjung dan peminat daripada kesenian asli dari daerah tersebut. Apa bila hal terbseut di biarkan (Reyog tampil secara individu) akan menimbulkan punahnya kesenian daerah tersebut karena berkurangnya peminat, maka dari itu biasanya Reyog lebih memilih alur kaloborasi dengan kesenian daerah tersebut daripada harus di tuduh sebagai pembunuh kesenian.

Bahkan Reyog kerap tampil secara kaloborasi dengan berbagai jenis tarian, berbagai aliran musik dari Dangdut, Pop, Rock, Mix, maupun Jazz.
   
4. Warna Merah Putih pada Rengkek Reyog

Pertunjukan Reog di Singapore, Terlihat Rengkek berwarna Merah Putih
Rengkek adalah sebuah kerangka barongan yang terkomposisi dari Bambu, Rotan, Benang dan Paku. Rengkek merupakan kecanggihan teknologi masyarakat Ponorogo yang sudah berusia ribuan tahun dengan rumus seni matematika yang rumit serta keseimbangan dalam pembuatan.

Rengkek Belakang Reog Di alon-alon Ponorogo
Biasanya apabila di muka rengkek di tempel Krakap dan di rangkai berhiaskan bulu merak yang sejajar, Pada belakang Rengkek di cat warna merah dan putih yang menyimbolkan warna Bendera Indonesia, yang sebenarnya sudah di lakukan sejak era akhir Majapahit.

Rengkek belakang pada Reog Setia Budi Malaysia yang berwarna Merah Putih
Sebenrarna yang terjadi saar ini, Warna Rengkek yang populer ialah dengan warna merah putih bergaris-garis, tidak sepenuhnya Full. Bahkan sebagaian Besar perkumpulan Reog di Malaysia masih menggunakan warna Merah utih pada rengkek mereka. Apakah mereka sudah tahu tentang ini? atau setelah membaca ini mereka akan berfikir untuk mengganti warna merah dan putih pada rengkek mereka menjadi warna Jalur Gemilang? Menyebalkan Sekali.

5. Unsur Reyog Sebagai Identitas Indonesia

Beberapa yang ada pada reyog di gunakan sebagai identitas Indonesia, terutama pada kalangan Militer, mengingat juga Warok adalah pasukan Militer kerajaan pada saat itu. Diantaranya adalah Senggak dan lengan Baju yang disingsingkan.

Senggak adalah sorakan suara manusia untuk mengiringi pertunjukan Reyog yang berbunyi Ha'e Ha'e Ho'ya. Pada awalnya Senggakan digunakan untuk menyemangati teman waroknya yang sedang berkelahi secara terbuka untuk menambah semangat dan memenagkan pertarungan. Dalam dunia militer tiap-tiap negara memiliki sejenis yel-yel untuk menyemangati diri supaya tidak rapuh dalam medan perang, Begitu juga Senggakan yang digunakan yelyel militer Indonesia di Internasional, Hal semacam ini sering kita jumpai pada film luar seperti pada tentara Amerika, Rusia, German.
Pemain angklung Reyog yang menyingsingkan Lengannya

Lengan Baju yang disingsingkan merupakan ciri khas pada pemain Reyog yang kini di gunakan oleh Para TNI maupun Polisi. Hal tersebut karena para Warok sering membantu sesama dan yang lemah dari yang menganiaya maupun sesama Warok, selain itu pada bagian musik supaya lebih memudahkan dan tidak mengganggu gerakan tangan disaat untuk mengerjakan perkusi musik.
Warok Manggolo Mudho Yogyakarta oleh Mahasiswa Ponorogo

Pada awalnya, Penadon adalah kecanggihan teknologi masyarakat Ponorogo di bidang tekstil di kala pihak kerajaan ke kerajaan belum mengetahui pakaian yang tertutup. Lengan yang disingsingan pada Penadon, dilakukan disaat untuk menghadapi lawan yang pada ujung-ujungnya berkelahi, kalau tidak di singsingkan lengannya ya di lepas baju penadon tersebut.
Begitu juga pada TNI dan Polisi yang mempunya motto tidak segan-segan ringan tangan untuk membantu msyarakat, Jarene.


6. Lambang Garuda Pancasila pada Krakap Reyog.
Reog dalam bentuk kreasi dedaunan pada parade daun di Semarang.
    Krakap adalah tempat dimana biasanya untuk menuliskan nama identitas dari Reyog tersebut yang ditempelkan pada Rengkek (Kerangka Dadak Merak) terbuat dari kain Bludru. Sebagaian besar bertuliskan "SENI REOG" pada kepala Barongan dan "PONOROGO" Pada sebelah kanan kiri kepala Barongan.
[ Baca Juga | Sumber Artikel tentang Krakap ]
Lambang Garuda Pancasila pada Reyog

    Sedangkan gambar Garuda Pancasila yang merupakan lambang negara Indonesia terdapat diatas tepat kepala Barongan dengan cara di proses sulam dengan manik-manik payet yang rumit. Dan Hampir 90 Prosen dadak merak yang ada di seluruh Dunia menggunakan gambar Garuda Pancasila, seperti di Amerika Serikat, Korea, Taiwan, Jepang, Kapal Dewa Ruci. Kecuali Malaysia yang keseluruhannya di sengaja polos dan lebih memilih gambar Gapura.
Reog "Singo Barong" dimainkan oleh TKI di Taiwan

   Dengan jiwa rantau dan kecintaan budaya yang kebal di miliki oleh warga Ponorogo di daerah rantauan membuat Reyog dan nama Ponorogo semakin besar dan bergengsi di mana-mana. Sedangkan Lambang Garuda Pancasila pada Krakap Reyog adalah sebgaia rasa bakti warga Ponorogo kepada Indonesia. Karena dapat di lihat pada seluruh kesenian di seluruh Indonesia belum ada yang mengusung Garuda pancasila kecuali Reyog, mungkin beberapa waktu kedepan akan ada kesenian non Ponorogo yang terinspirasi menambahkan lambang Garuda Pancasila pada kesenian tersebut.

Tambahkan Komentar Via FB