Senin, 08 Juni 2015

Kesenian Yang Sangat Nasionalis Adalah Reyog Ponorogo.

Bismillahirrohmanirrohim...

Pernahkah anda berpendapat kesenian mana dari Indonesia yang paling Nasionalis? Bila belum memikirkan, Disini Lembaga Survei Jaseters akan menawarkan kepada anda kesenian yang sangat Nasionalis ialah Reyog dari Ponorogo, Hal itu karena saat ini Maraknya kesenian yang menyebut dirinya dengan nama REOG.

Hal itu karena di temukannya beberapa unsur yang mampu menguatakan bahwa Reyog merupakan kesenian yang sangat Nasionalis.

1. Seniman Reyog Tidak harus orang dari Ponorogo maupun Jawa (Tidak Terikat Suku dan Ras)        
    Seniman Reyog tidaklah harus dari Ponorogo maupun keturunan dari pemain Reyog, Melainkan harus memiliki kecintaan akan Reyog. Hal ini Terbukti karena dari ribuan Seniman Reyog yang ada bukanlah dari Ponorogo saja, melainkan juga dari kalangan orang Sunda, Melayu, Madura, Dayak, Flores, Irian hingga orang dari luar negeri yang bukan Indonesia sekalipun.
Reog "Singo Mudho Korea" yang di bentuk oleh TKI asal Ponorogo.

Selain itu, Kesenian Reyog selalu ada pada kegiatan kesenian non Jawa, yang sebagaian di adakan oleh pemerintahan maupun oleh kesatuan adat dimana Reyog berada baik di Indonesia maupun di Luar Negeri. Bahkan sekitar 30 Tahunan yang Lalu, Reyog Ponorogo yang Tampil di Korea oleh delegasi Indonesia mendapatkan dua penghargaan sebagai "The Big Mask of Dance in The World",  Karena memang Topeng dari Reyog sangat besar yang mencapai 2,25 Meter dan bila di tarikan menjadi kurang lebih 4,5 Meter dan penghargaan kedua ialah "The Magic of Dance in The World", Karena Reyog zaman dahulu sering menampilkan atraksi yang tidak dapat di terima akal seperti melahap api, aksi kekebalan tubuh, akrobatik, hingga menyemburkan api yang indah yang kala itu belum mampu di lakukan oleh pemain sirkus sekalipun pada masa itu.

2. Seniman Reyog Tidak harus Dari Kalangan Orang Islam (seperti point pertama). 
    Memang saat ini Seniman Reyog di dominan mereka yang beragama Islam, Tetapi sebenarnya terdapat juga dari seniman reyog beragama non Islam seperti Kristen, Budha dan Hindu. Hal itu dapat di temui beberapa kelompok Agama non Islam yang memiliki Group Reyog sendiri.
Reog pada acara keagamaan Hindu di Gresik, kota cikal bakal islam di Jawa

Sekali lagi, Reyog kerap tampil di acara kegiatan agama baik Islam, Kristen, Hindu maupun Budha.

3. Reyog Kesenian Yang Bebas.
    Reyog merupakan kesenian yang di ciptakan oleh penguasa Ponorogo pada waktu itu. Pakaian, Musik, bahkan Gerak tari di luar dari pakem yang menunjukan Jawa, Bahkan lebih terlihat seperti Urak- Urakan dan merendahkan beberapa Tarian yang ada pada Keraton. hal itu dikarenakan tarian yang ada pada Keraton adalah tarian dari Rakyat untuk Raja, sedangkan Reyog di ciptakan oleh Penguasa kepada Rakyat. Hal inilah yang mambuat Reyog dan lebih terkenal dari tarian Keraton.

Kaloborasi musik Jazz dengan musik Reyog di kawasan Tengger
   Apabila di luar Ponorogo, Reyog mampu menarik simpati lebih banyak pengunjung dan peminat daripada kesenian asli dari daerah tersebut. Apa bila hal terbseut di biarkan (Reyog tampil secara individu) akan menimbulkan punahnya kesenian daerah tersebut karena berkurangnya peminat, maka dari itu biasanya Reyog lebih memilih alur kaloborasi dengan kesenian daerah tersebut daripada harus di tuduh sebagai pembunuh kesenian.

Bahkan Reyog kerap tampil secara kaloborasi dengan berbagai jenis tarian, berbagai aliran musik dari Dangdut, Pop, Rock, Mix, maupun Jazz.
   
4. Warna Merah Putih pada Rengkek Reyog

Pertunjukan Reog di Singapore, Terlihat Rengkek berwarna Merah Putih
Rengkek adalah sebuah kerangka barongan yang terkomposisi dari Bambu, Rotan, Benang dan Paku. Rengkek merupakan kecanggihan teknologi masyarakat Ponorogo yang sudah berusia ribuan tahun dengan rumus seni matematika yang rumit serta keseimbangan dalam pembuatan.

Rengkek Belakang Reog Di alon-alon Ponorogo
Biasanya apabila di muka rengkek di tempel Krakap dan di rangkai berhiaskan bulu merak yang sejajar, Pada belakang Rengkek di cat warna merah dan putih yang menyimbolkan warna Bendera Indonesia, yang sebenarnya sudah di lakukan sejak era akhir Majapahit.

Rengkek belakang pada Reog Setia Budi Malaysia yang berwarna Merah Putih
Sebenrarna yang terjadi saar ini, Warna Rengkek yang populer ialah dengan warna merah putih bergaris-garis, tidak sepenuhnya Full. Bahkan sebagaian Besar perkumpulan Reog di Malaysia masih menggunakan warna Merah utih pada rengkek mereka. Apakah mereka sudah tahu tentang ini? atau setelah membaca ini mereka akan berfikir untuk mengganti warna merah dan putih pada rengkek mereka menjadi warna Jalur Gemilang? Menyebalkan Sekali.

5. Unsur Reyog Sebagai Identitas Indonesia

Beberapa yang ada pada reyog di gunakan sebagai identitas Indonesia, terutama pada kalangan Militer, mengingat juga Warok adalah pasukan Militer kerajaan pada saat itu. Diantaranya adalah Senggak dan lengan Baju yang disingsingkan.

Senggak adalah sorakan suara manusia untuk mengiringi pertunjukan Reyog yang berbunyi Ha'e Ha'e Ho'ya. Pada awalnya Senggakan digunakan untuk menyemangati teman waroknya yang sedang berkelahi secara terbuka untuk menambah semangat dan memenagkan pertarungan. Dalam dunia militer tiap-tiap negara memiliki sejenis yel-yel untuk menyemangati diri supaya tidak rapuh dalam medan perang, Begitu juga Senggakan yang digunakan yelyel militer Indonesia di Internasional, Hal semacam ini sering kita jumpai pada film luar seperti pada tentara Amerika, Rusia, German.
Pemain angklung Reyog yang menyingsingkan Lengannya

Lengan Baju yang disingsingkan merupakan ciri khas pada pemain Reyog yang kini di gunakan oleh Para TNI maupun Polisi. Hal tersebut karena para Warok sering membantu sesama dan yang lemah dari yang menganiaya maupun sesama Warok, selain itu pada bagian musik supaya lebih memudahkan dan tidak mengganggu gerakan tangan disaat untuk mengerjakan perkusi musik.
Warok Manggolo Mudho Yogyakarta oleh Mahasiswa Ponorogo

Pada awalnya, Penadon adalah kecanggihan teknologi masyarakat Ponorogo di bidang tekstil di kala pihak kerajaan ke kerajaan belum mengetahui pakaian yang tertutup. Lengan yang disingsingan pada Penadon, dilakukan disaat untuk menghadapi lawan yang pada ujung-ujungnya berkelahi, kalau tidak di singsingkan lengannya ya di lepas baju penadon tersebut.
Begitu juga pada TNI dan Polisi yang mempunya motto tidak segan-segan ringan tangan untuk membantu msyarakat, Jarene.


6. Lambang Garuda Pancasila pada Krakap Reyog.
Reog dalam bentuk kreasi dedaunan pada parade daun di Semarang.
    Krakap adalah tempat dimana biasanya untuk menuliskan nama identitas dari Reyog tersebut yang ditempelkan pada Rengkek (Kerangka Dadak Merak) terbuat dari kain Bludru. Sebagaian besar bertuliskan "SENI REOG" pada kepala Barongan dan "PONOROGO" Pada sebelah kanan kiri kepala Barongan.
[ Baca Juga | Sumber Artikel tentang Krakap ]
Lambang Garuda Pancasila pada Reyog

    Sedangkan gambar Garuda Pancasila yang merupakan lambang negara Indonesia terdapat diatas tepat kepala Barongan dengan cara di proses sulam dengan manik-manik payet yang rumit. Dan Hampir 90 Prosen dadak merak yang ada di seluruh Dunia menggunakan gambar Garuda Pancasila, seperti di Amerika Serikat, Korea, Taiwan, Jepang, Kapal Dewa Ruci. Kecuali Malaysia yang keseluruhannya di sengaja polos dan lebih memilih gambar Gapura.
Reog "Singo Barong" dimainkan oleh TKI di Taiwan

   Dengan jiwa rantau dan kecintaan budaya yang kebal di miliki oleh warga Ponorogo di daerah rantauan membuat Reyog dan nama Ponorogo semakin besar dan bergengsi di mana-mana. Sedangkan Lambang Garuda Pancasila pada Krakap Reyog adalah sebgaia rasa bakti warga Ponorogo kepada Indonesia. Karena dapat di lihat pada seluruh kesenian di seluruh Indonesia belum ada yang mengusung Garuda pancasila kecuali Reyog, mungkin beberapa waktu kedepan akan ada kesenian non Ponorogo yang terinspirasi menambahkan lambang Garuda Pancasila pada kesenian tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar Via FB