Rabu, 30 Desember 2015

Asal Usul Kata Jancok Dalam Penelitian Jaseters

Bismillahirrohmanirrohim...

Unduh Arikel Ini?, Klik Di Sini...

Penagamatan dan Penelitian yang di lakukan oleh Tim Gresik Iku Jaset! ini, belum pernah ada dan terpublikasikan oleh media apapun sebelum artikel ini.
Untuk kepentingan Edukasi, terpaksa tidak ada sensor pada suatu kata apapun.


ALASAN
Pengamatan dan penelitian ini atas dasar sosial, banyaknya artikel sejarah jancok yang ngawur dalam berbagai versi dan tidak ada kejelasannya yang seolah-olah dibenarkan oleh beberapa pihak, bahwa jancok berasal dari Arab, Belanda, Amerika, Madura, Sulawesi.

AMATI, CERMATI, ANALISIS, TELITI

Apa Itu Jancok?
Jancok adalah sebuah kosakata umpatan yang berakarkan kebudayaan Surabaya, di Tempat lain Umpatan dapat berbunyi meliputi kata benda, nama hewan, nama hal sesuatu yang lazimnya saru di ucapkan seperti halnya:

Nama Hewan : Anjing, Asu, Jaran, Jangkrik, Badak
Nama Benda dan hal : Panci, Taek, Bangsat, Keparat, Joh Ngasoh, Goblok, Jan.
Nama anggota tubuh :Rai, Mata, Jembut, Torok, Bawuk, Kontol,

Contoh umpatan diatas selain jancok adalah umpatan khas yang lazimnya di ucapkan warga jawa timuran, Jawa tengah, dan yogyakarta dengan penggunaan bahasa Jawa yang umunya kasar (kromo andap).

Namun untuk Anggota tubuh, meski bukan yang telah disebutkan, apabila ditambahkan MU (kepunyaan kamu) dengan tekanan nada tinggi akan berubah menjadi sebuah umpatan, yang umumnya digunakan dalam masyarakat jawa.

Contoh: Mata-mu, Ndas-mu, Untu-mu, Irung-mu, Congor-mu, Taek-mu, Rai-mu dan sebagainya.

dalam tradisi budaya Jawa Arek yang meliputi kota Surabaya, Gresik dan Sidoarjo dalam memanggil seseorang yang lebih tua atau yang dihormati dengan sebutan "Cacak" dapat juga berarti Kakak laki-laki, berbeda dengan Jawa kulonan yang menyebut Kakang, apabila pada Tionghoa dengan sebutan Koko.

yang menarik hingga saat ini, di komunitas Jawa Kulonan masih menggunakan umpatan "Jan Tenan" yang dimana Jan berarti ungkapan lrasa kecewa yang sangat-lebih, sedaangkan Tenan yang berarti benar-an seperti kalimat berikut.

"Mobilnya pak Agus Apik Jan" dalam bahasa Indonesia : mobilnya pak Agus bagus sekali
"Mobilnya pak Agus Apik Tenan" dalam bahasa Indonesia : mobilnya pak agus memang bagus

Tim Jaseters menyimpulkan bahwa, Jancok yang lahir di kota Surabaya, kota yang penduduknya hetrogen (pendatang) dan ibu kota dari jawa timur sejak era kolonial Belanda berasal dari kata Jan yang berasal dari Jaran dan Cak yang diartikan Kamu.

kata umpatan Jancak di buat oleh seorang pemuda yang kecewa dengan seniornya, maka tidaklah etis mengatakan umpatan seperti halnya umpatan jawa umumnya kepada seniornya, sebagai contoh : Asu (anjing). Untuk itu di gunakanlah suatu kosakata baru yang tidak diketahui oleh senior dengan tujuan meluapkan amarah namun tanpa harus menyinggung perasaan senior/ orang yang lebih tua tersebut.

Apabila diartikan Jan dan Cacak berarti Kakak Sangat  --- (bisa : Bodoh) yang mengungkapkan rasa kecewa. namun karena orang biasa lebih familiar menggunkan vocal [O] daripada vocal [A,I,U,E], dengan begitu pengucapan lafal Jancak menjadi Jancok.

PENYEBARAN

Meski jancok lahir disurabaya, namun jancok populer di luar surabaya juga seperti kota Gresik. kota Gresik dalam pemetaan kemerdekaan merupakan kota yang termasuk wilayah administratif kabupaten Surabaya hingga tahun 1974.

Namun tidak ditemukannya di kota Gresik seorang berusia 50 tahun lebih yang mengenal kata Jancok di usia mudanya, Jancok dikenal orang Gresik sekitar tahun 1999an awal 2000, dimana tahun tersebut tahun terbentuknya organisasi suporter sepak bola Gresik yang tidak lain Ultras.
Suportes Surabaya, Bonek Mania
Memberi dukungan kepada tim sepak bola yang berseruan dengan superter lawan memberi kebanggaan sendiri, tidak lepas kata Jancok keluar dari sorakan suporter surabaya dengan menjancukan suporter lawannya, bagi kota lain yang tidak mengenal kata jancok awalnya bersikap biasa saja, namun setelah mengetahui bahwa jancok merendahkan tim yang di dukung, secara otomatis jancok pun dilemparkan kembali ke suporter sepak bola surabaya.

Selain melalui jalur suporter, jancok juga tersebar melalui jalur layar/laut (tanjang Perak) yang merupakan pelabuhan tersibuk di jawa timur, bertemunya orang surabaya dengan orang madura, bugis, melayu, transmigran membuat jancok lebih dikenal dan di amalkan oleh orang yang membawanya.

PERKEMBANGAN

Dengan terbiasanya umpatan Jancok pada telinga masyarakat Surabaya, Jancok tidak menjadi sekedar umpatan, melainkan juga sebagai ungkapan "gojlok" atau biasa disebut Ejekan. Dalam arti, jancok bukanlah kata umpatan, melainkan juga kata ungkapan pokok sehari-hari layaknya Jan dan Tenan dalam masyarakat Jawa Kulonan.

Contoh: "Jancok, pak Agus mobilnya apik" Dalam bahasa indonesia : Mobilnya pak Agus Bagus Sekali

Selain itu, penekanan dan bentuk kata Jancok juga menjadi bervariatif dalam penggunaanya baik dalam umpatan maupun ungkapan pokok. kata jancok menjadi beberapa kata, seperti:

Jian+Cok, Dan+Cok, Dian+Cok, Jan+cuk, Dian+Cuk dan sebagainya yang terdiri dari penekanan


Level 1 : Jancok, jancuk, dancok (kategori Biasa)
Level 2 : Jiancok, Jiancuk, diancok (Kategori Berbahaya)
Level 3:  Jiuancok, Jiuancuk, diuancok (Kategori sangat Berbahaya)

bahkan terdapat ungkapan "Orang surabaya apabila tidak bisa bilang Jancok, berarti orang itu Jongok (bodoh/idiot).
Poster film Merdeka atau Mati
Pada tahun 1990, sebuah film bioskop dengan judul "Merdeka atau Mati" (bisa juga, Surabaya 45). kosakata Jancok menjadi ungkapan yang populer pada masyarakat surabaya tahun 1945 baik umpatan maupun sebagai bahan canda. Di produksi oleh Pt. Sinar Permata Mas yang berkerja sama dengan Pemda Jawa Timur.

Lambang Jaseters
Pada tahun 2004, Jancok di kesampingkan menjadi Jaset oleh Anas merupakan warga Gresik yang kurang menyukai kata Jancok, karena pada tahun-tahun tersebut umumnya pengungkapan kata jancok di Gresik sebagai umpatan dengan penekanan suara dan emosi, berbeda dengan jancok di surabaya yang lebih jenaka.

Ungkapan Jaset kini dapat dikatakan sama besarnya dengan jancok, hanya saja Jaset di ungkapan oleh mereka yang enggan mengucapkan ungkapan Jancok dan sudah tersebar ke luar Gresik. Rata-rata penuturnya adalah orang dewasa yang sudah memiliki anak/cucu, santri, pelajar baik-baik, ustadz dengan sebutan Jaseters atau Jazitiyah yang sama berarti pengikut Jaset, tentunya berbeda 360 derajat kebalikan dari penutur jancok

Poster Grammar Surabaya Volume 1
Pada tahun 2007, Cak Ikin (Dulu, Si Ikin) selaku owner Gatot kaca Studio, membuat video animasi "Grammar Surabaya" dengan tokoh yang berbeda watak, si Boyo yang terbuka apa adanya dan suka mengatakan Jancok Sedangkan si Sura justru lebih berhati-hati dalam ucapannya, animasi ini dilengkapi dengan peningkatan point bila mengatakan hal buruk (sejenis pahala dan dosa)

Grammar Surabaya ini sukses memikat hati seluruh kalangan dangan wadah Jancokers dan selalu ditunggu-tunggu berbagai episode lanjutan oleh penggemarnya hingga saat ini, karena dalam animasi buatan cak Ikin ini selalu terdapat isu masa kini, kehidupan sehari-hari dan filosofi kehidupan. Bahkan terdapat serial khusus anak-anak yang diproduksi Gatot Kaca Studio , namun tanpa ada umpatan sama sekali.

Namun Tim Jaseters berpendapat, bahwa animasi Grammar Surabaya justru membuat orang yang melihatnya lebih enggan mengucapkan kosakata Jancok, karena terlihat dari bila setiap pengumpatan maka akan bertambahnya sebuah point layaknya point pada game pertarungan.

Pooster film Punk In Love
Pada tahun 2009, Sebuah film berjudul "Punk In Love" seorang tokoh utama bernama Arok (punkers malang) gemar mengatakan Jancok dalam perjalananya menuju kota dimana kekasihnya tinggal. Di produksi oleh Raam Punjabi.

Sampul buku Republik #jancukers
Pada tahun 2012, buku berjudul Republik #Jancukers karya Sujiwo Tejo dengan pemikirannya yang dimana sebuah negara yang dipimpinnya dapat memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya dengan penggemarnya disebut Jancukers.

Jancukers sujiwo tejo mengalahkan Jancokers si ikin yang lebih dahulu ada karena penggemar buku tersebut adalah kaum mahasiswa dan politik intelektual yang melek internet, terutama Twitter dengan hastag-nya. Buku republik #jancukers di terbitkan oleh Kompas Publishing.


Responden : Total 60 orang dari, 30 Orang Jawa Arek (15 Surabaya, 15 Gresik ) dan 30 orang Kulonan ( 10 Magetan, 10 Ponorogo, 5 Madiun, 5 Ngawi, 5Nganjuk) Usia : v25 | 25 orang,  ^25 |25 orang. Sebagaian Tuban, Bojonegoro, Pamekasan, Bangkalan, Lumajang.

15 November 2015

untuk keperluan rujukann data dan penelitian, silahkan hubungi Jaseters, Gresik Iku Jaset!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar Via FB