Selasa, 29 Desember 2015

Inilah 3 Kota Di Indonesia Yang Menerapkan Hukum Qisas Islam

Bismillahirrohmanirrohim....

Mendengarkan saja sudah dapat membuat kita merinding meskipun tidak menyeramkan... Hal itu karena kosakata Qisas sudah menjadi sugesti yang begitu mengerikan di telinga masyarakat Indonesia, Identik dengan pancung kepala, potong tangan maupun rajam dialami oleh TKI/TKW di Saudi Arabia yang menjadi berita Nasional.

Sebenarnya Hukum Qisas tidaklah begitu mengerikan, Asalkan kita tidak melakukan sebuah kesalahan Bahkan Hukum ini sebenarnya dapat menstabilkan kehidupan Indonesia yang sudah mulai kacau balau nan tidak terkendali saat ini, dengan begitu dapat dijadikan sebagai batasan-batasan perilaku manusia yang hendak menyimpang dari peraturan-peraturan yang ditetapkan.


Kata Qisas sendiri dari bahasa Arab yang berarti pembalasan di dunia yang setimpal, Bila mencuri dan korupsi sudah asti tentu tangan yang akan di potong, bila membunuh sudah tentu leherlah yang akan di penggal yang akan mengakibatkan kematian pula, hingga ke lingkaran perselingkuhan dan lain-lain menimbulkan terciptanya suatu dosa, sehingga terciptanya rasa aman di masyarakat.

Tetapi adakala kelemahannya, yaitu akan terjadinya penyalahan guna oleh orang yang tidak bertanggung jawab, seperti fitnah, adu domba yang menyebabkan kerugian pada sebilah pihak. Karena apabila eksekusi sudah dilaksanakan, Bisakah tangan terpotong kembali lagi? bisakah orang mati di hidupkan kembali?

Berikut informasi kota-kota di Indonesia yang menggunakan hukum Islam sebagai Landasan hukum di wilayah tersebut, yang di rangkum oleh Jazitiyah. Semoga bermanfaat untuk Jama'ah Jazitiyah sekalian.

Lambang Kota Jepara

1. Kerajaan Kalingga di Kota Jepara (Abad 6-7)
Kerajaan Lingga yang selama ini di kira Hindu oleh masyarakat, ternyta merupakankerajaan Islam yang dipimpin oleh Ratu Shima juga yang juga beragama islam, Hal itu terbukti adanya korespondensi Ratu Sima dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Ia menerapkan hukum islam untuk memberantas pencurian dan kejahatan ang sering terjadi, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur dan berperilaku baik.

Bahkan Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putra mahkotanya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.

Awal mulanya, pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemasyhuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada seorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya walau kemudian hanya memotong kaki sang putera mahkota.

Lokasi : Kota Jepara, Provinsi Jawa Tengah | Kerajaan Lingga


Lambang Kota Ponorogo
2. Desa Tegalsari, Kadipaten Ponorogo (Abad 17-19)
Hukum Islam juga pernah dilakukan di lingkup desa Tegalsari, kecamatan Jetis Ponorogo yang di gagas oleh Kyai Ageng Hasan Bashari pendiri dari Pondok Tegalsari yang merupakan cikal bakal dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Desa Tegalsari semakin hari menjadi semakin ertambah banyak penduduknya dan sangat maju dalam hal Agama Islam, sampai-sampai tersohor dimana-mana pesantren Tegalsari.

Kyai Kasan Besari selain mengajar para santri juga menjabat sebagai Kepala Desa Tegalsari. Jumlah muridnya ketika itu tidak kurang dari 10.000 orang. Di waktu itu Kyai Ageng Kasan Besari sampai membuat peraturan baru yang selaras dengan Hukum Agama Islam. Orang mencuri (maling) apabila tertangkap hukumannya dipotong tangannya, orang yang bertindak zina digebuki sampai 80 kali gebukan. 
Desa Tegalsari adalah desa yang aman dan tentram, menjadi sumber ilmu Agama Islam. Keamanan dan ketentraman desa Tegalsari membuat iri hati desa-desa yang lain. Sehingga desa lainnya juga akan menerapkan peraturan seperti di desa Tegalsari.

Bupati Ponorogo setelah mendengar bahwa Kyai Tegalsari membuat peraturan sendiri dan nyebal dari peraturan Pemerintah segera melaporkan hal tersebut kepada Sinuhun di Surakarta. Sinuhun merasa terkejut sekali, terus memerintahkan supaya menangkap Kyai Tegalsari untuk dibawa ke Surakarta dikenakan pidana. Sesudah diurus oleh Pengadilan Negeri, Kyai Ageng Kasan Besari mendapat keputusan dibuang (diasingkan/diselong) keluar Jawa, di seberang lautan, namun setiap perahu hendak berangkat membawa Kyai Ageng Kasan Besari selalu tidak dapat berlayar, hingga diputuskan menjadi tahanan di keraton.

Hingga suatu saat keraton Surakarta di luruk oleh para santri Tegalsari yang berjumlah 500 orang, namun Kyai Ageng Kasan besari lebih memilih untuk ditahan sebagai rasa setia kepada peraturan pemerintahan yang ada. Kebiasaan Kyai Ageng Kasan Besari membaca Al-quran setiap malamnya dengan suara merdu, membuat putri Sinuhun tertarik dan dinikahkan dengan Kyai Ageng Kasan Besari, Hukum Islam pun tetap dilakukan di desa Tegalsari selama periode Kyai Ageng Kasan Besari, Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904.
Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Ya, bila kita pernah melihat penari di cambuk berkali-kali dalam pertunjukan atraksi Reyog atau Kuda lumping, sebenarnya adalah peringatan bagi umat islam, bahwa kelak akan hari pembalasan tanpa ampun meski memohon. lalu kenapa tidak sakit? untuk sementara hal ini rahasia Jazitiyah yang tidak lama lagi akan di publikasikan dalam bentuk buku.

Lokasi : Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.

Lambang Provinsi Aceh

3. Nangro Aceh Darussalam (Abad 20 - Sekarang)
Tanah Aceh yang tidak merasakan dijajah oleh orang Eropa mendapatkan hak daerah istimewa tentang digunakannya hukum islam di seluruh provinsi Aceh tersebut dengan sebutan Qanun Hukum Jinayah.

Dengan disahkannya Qanun Hukum Jinayah sejak tahun 2005, maka di Aceh akan berlakunya hukuman cambuk atau denda dengan bayar emas murni bagi pelaku pemerkosaan, perzinaan, pelecehan seksual, praktik hubungan seksual sesama jenis gay, lesbian, mesum, perjudian, mengonsumsi minum keras dan bermesraan dengan pasangan bukan muhrim.

Bukan hanya pelaku, orang yang ikut menceritakan ulang perbuatan atau pengakuan pelaku jarimah secara langsung atau melalui media juga dikenakan hukuman cambuk.

Sanksi cambuk bukan hanya berlaku bagi mereka yang beragama Islam. Warga non-muslim, anak-anak dan badan usaha yang menjalankan bisnisnya di Aceh, jika melakukan pelanggaran syariat, juga akan dikenakan hukuman dalam qanun ini. Hanya saja bagi non-muslim diberi kelonggaran yakni bisa memilih apakah diproses dengan qanun atau hukum nasional yang berlaku.

Lokasi : Provinsi Daerah Istimewa Nagro Aceh Darussalam

Penangkapan Pangeran Dipenogoro
Dengan demikian, telah ada sejak lama dalam catatan sejarah Indonesia tentang penggunaan hukum islam di berbagai tempat karena suatu keistimewaan. sebagai contoh, Kerajaan Lingga menggunakan hukum islam sebagai hukuman bagi yang melanggar di wilayah tetorial kerajaan yang di bentuk langsung oleh kepala negara, hal tersebut berlaku juga untuk desa Tegalsari dan Aceh.

Dengan adanya Hukum Islam, bukan berarti merubah Indonesia menjadi negara Islam maupun negara Arab, tetapi lebih menjujung harkat diri bangsa Indonesia, karena masyarakat akan lebih berhati-hati dalam melakukan suatu tindakan, yang tentunya merugikan orang lain.

Bahkan pihak Belanda acap kali menggunakan hukuman mati kepada mereka Pemberontak (pahlawan Indonesia) yang beragama islam karena telah banyak membunuh prajurit Belanda, dengan dalih orang Islam harus dihukum dengan hukum Islam juga baik di gantung, dipenggal ataupun ditembak.

Siapakah mereka? Si Pitung, Pangeran Dipenogoro, Kapitan Patimura, Sadiman Sakera, Jayadigdan dan masih banyak lagi. Dan masihkah kita tidak mensyukuri kemerdekaan atas perjuangan para pahlawan kita?

mungkin akan menjadi lebih baik, bila seluruh Indonesia juga menggunakan hukum Islam.Takut? bagi mereka saja yang takut akan kebaikan. positive thinking saja, mungkin saja untuk menghindari hal sedemikian yang di alami oleh para pahlawan kita.

Disusun oleh Tim Jazitiyah, Gresik Iku Jaset!
20 Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar Via FB